Dampak Berpalingnya Singapore Airlines dari A380 bagi Airbus - Aviatren

Dampak Berpalingnya Singapore Airlines dari A380 bagi Airbus

September 8, 2017

Singapore Airlines A380, 9V-SKA

AVIATREN.com – Maskapai Singapore Airlines mengambil keputusan untuk tidak memperpanjang sewa pesawat Superjumbo Airbus A380 yang mulai dioperasikan sepuluh tahun lalu. Malaysia Airlines juga memutuskan tidak mengoperasikan A380 untuk penerbangan terjadwal komersil, melainkan untuk charter umroh dan haji. 

A380 milik Singapore Airlines yang dimaksud adalah pesawat gelombang pertama yang diproduksi Airbus dan dioperasikan oleh Singapore Airlines.

“Sewa A380 akan berakhir pada Oktober 2017 dan kami memutuskan untuk tidak memperpanjangnya,” demikian keterangan resmi dari Singapore Airlines seperti dikutip AVIATREN dari situsnya, Jumat (8/9/2017).

Singapore Airlines saat ini mengoperasikan 19 pesawat A380. Lima pesawat pertama adalah pesawat pinjaman dengan jangka 10 tahun yang disewa dari DORIC Lease Corp. Satu dari lima pesawat itu akan dikembalikan. Nasib empat pesawat sisanya akan ditentukan belakangan.

“Rencana armada dan strategi mereka memang akan menggantinya dengan pesawat baru, pesawat produksi awal seringkali memiliki banyak kendala dan Singapore Airlines tidak ingin terjebak tidak bisa memasarkan kelima pesawat itu,” ujar analis CAPA, Brendan Sobie kepada The Wall Street Journal.

Pesawat-pesawat jenis baru yang diproduksi lebih awal biasanya memang tidak diminati oleh maskapai. Sebab pesawat-pesawat tersebut seringkali memiliki masalah dari pabriknya karena menggunakan “cetak biru” yang baru.

Berpaling satu per satu

Singapore Airlines bukan satu-satunya maskapai yang memalingkan diri dari A380. Sebelumnya, maskapai tetangganya, Malaysia Airlines juga memutuskan untuk mengganti jet-jet A380 perusahaan dengan varian yang lebih kecil A350.

Daftar maskapai yang mulai berpaling dari A380 itu makin panjang. Pada awal 2017, Airbus mengatakan Air Austral (maskapai Perancis) membatalkan pesanan dua A380.

Sebelumnya, maskapai India, Kingfisher Airlines juga memesan A380 sebelum akhirnya bangkrut pada 2012 dan pembeliannya tidak terealisasi. Maskapai Rusia, Transaero juga meminati A380 sebelum ditutup tahun lalu.

Sementara pesanan A380 dari maskapai Jepang, Skymark Airlines Inc. harus dibatalkan karena ada masalah dalam hal pembayaran.  

Dari sisi pemesanan yang sedang dikerjakan (backlog), muncul juga keragu-raguan. Virgin Atlantic Airways milik pengusaha Richard Branson sudah memesan enam A380 namun belum berencana menggunakannya.

Maskapai tersebut juga mengumumkan ingin membeli varian A350-1000 tahun ini.

Perusahaan sewa pesawat berbasis di Irlandia, Amedeo juga sudah memesan 20 pesawat, namun hingga kini masih belum bisa menemukan pelanggan yang mau mengoperasikannya.  

Dampaknya bagi program A380 Airbus

Singapore Airlines memang baru mengembalikan satu dari lima unit pesawat A380 sewaannya, namun ini menunjukkan bahwa maskapai flag carrier Singapura itu telah mempertimbangkan efek apa yang akan didapat jika mengoperasikan A380 dalam jangka lama.

Keputusan yang diambil Singapore Airlines itu seolah menambah bayang-bayang program A380 Airbus.

Airbus selama ini memang kesulitan mencari konsumen yang mau membeli Superjumbo A380. Sepinya permintaan A380 membuat Airbus harus memangkas kapasitas produksi pabriknya dari 27 pesawat per tahun di 2015 lalu menjadi hanya 12 pesawat saja pada 2018 nanti.

Fasilitas perakitan A380

Salah satu keengganan maskapai-maskapai untuk meminang A380 adalah load factor (tingkat keterisian pesawat) yang belum tentu bisa dipenuhi oleh mereka, sehingga susah untuk mencari untung. A380 sendiri memiliki kapasitas kursi hingga 600 penumpang. Ia dibanderol dengan harga mulai dari 432,6 juta dollar AS.

Maskapai-maskapai kini lebih cenderung memilih ukuran pesawat yang lebih kecil namun mampu terbang lebih jauh dan memiliki dua mesin saja. Sehingga lebih hemat dalam perawatannya.

Oleh karena itulah, Airbus A350 dan Boeing B787 Dreamliner kini lebih menarik di mata maskapai-maskapai dunia.

Airbus tidak mau berkomentar tentang keputusan Singapore Airlines tidak memperpanjang pengoperasian A380. Mereka berkilah tidak bisa memberikan komentar terhadap rencana armada yang dibuat maskapai.

Peluang model bisnis baru?

Pun demikian, Airbus nampaknya tetap optimis dengan bisnis sewa pesawat A380 produksinya.

“Kami yakin masih ada pasar untuk A380 tangan kedua (second hand), bisa disewakan dengan harga yang menarik,” ujar juru bicara Airbus kepada The Wall Street Journal.

“Ini juga menjadi kesempatan yang bagus bagi pemain baru dengan model bisnis yang baru pula untuk mengoperasikan A380,” imbuhnya.

Contoh maskapai yang menggunakan strategi untuk mengoperasikan A380 second adalah British Airways.

International Consolidated Airlines Group selaku perusahaan induk British Airways melalui CEO-nya, Willie Walsh mengatakan bahwa mereka ingin mengakuisisi A380 bekas maskapai lain untuk melengkapi 12 A380 yang telah dioperasikan maskapai Inggris tersebut.

Menurut Walsh, mengoperasikan A380 bekas akan lebih masuk akal bagi British Airways ketimbang membeli baru.

Airbus boleh saja tetap optimis dengan program A380-nya, karena masih ada maskapai Jepang ANA yang memesan tiga pesawatnya. Ada pula Iran Air yang memesan 12 pesawat senilai 27 miliar dollar AS.

Namun Airbus juga harus menyiapkan strategi jika Superjumbo itu mulai tidak lagi diminati maskapai-maskapai dunia. Salah satunya adalah bisnis sewa A380 bekas.